tes toefl untuk lpdp – sering jadi momok utama para pejuang beasiswa. Banyak yang IPK-nya sudah tinggi, CV-nya keren, pengalaman organisasi dan risetnya kuat, tapi akhirnya gugur di tahap administrasi hanya karena skor TOEFL tidak memenuhi syarat. Baca Juga passing grade lpdp 2026 Zona Aman yang Jarang Dibahas!
Di tengah persaingan beasiswa S1, S2, dan S3 yang makin ketat, kemampuan bahasa Inggris bukan lagi “nilai plus”, melainkan gerbang awal yang menentukan apakah aplikasi kamu akan dibaca reviewer atau langsung tersisih di filter sistem.
Di sinilah memahami secara detail aturan, jenis tes, skor minimal, masa berlaku, sampai strategi belajar untuk tes TOEFL untuk LPDP menjadi krusial, terutama jika kamu ingin kuliah di kampus top dalam maupun luar negeri.

Memahami Tes TOEFL untuk LPDP : Bukan Sekadar “Tes Bahasa Inggris”
Sebelum membahas angka skor dan strategi, penting untuk memahami dulu: mengapa tes TOEFL untuk LPDP begitu diprioratiskan dan tidak bisa dinegosiasikan, bahkan untuk pelamar yang sudah punya LoA (Letter of Acceptance)?
Secara sederhana, TOEFL (Test of English as a Foreign Language) adalah tes standar internasional untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris akademik. LPDP menggunakan tes ini (dan padanannya seperti IELTS atau PTE Academic) sebagai:
- Filter awal administrasi
Jika skor kamu di bawah batas minimal, aplikasi bisa langsung gugur, bahkan sebelum reviewer membaca esai atau melihat prestasi kamu. - Indikator kesiapan studi
LPDP membiayai kamu untuk belajar di lingkungan akademik yang mayoritas memakai bahasa Inggris, terutama untuk tujuan luar negeri. Tanpa kemampuan bahasa Inggris yang memadai, risiko gagal studi, remedial, atau kesulitan riset akan jauh lebih besar. - Bukti keseriusan dan komitmen
Mengikuti tes resmi, belajar berbulan-bulan, dan mencapai skor tertentu menunjukkan bahwa kamu serius mempersiapkan diri, bukan sekadar “coba-coba daftar beasiswa”.
Karena itu, tes TOEFL untuk LPDP bukan hanya soal “bisa bahasa Inggris” atau tidak, tetapi juga soal apakah kamu siap menghadapi tuntutan akademik di level S2 atau S3.
Di titik ini, tugasmu bukan membuktikan bahwa kamu ‘pintar bahasa Inggris’, tapi bahwa kamu cukup terlatih dan siap secara akademik. Baca Juga passing grade lpdp 2026 Zona Aman yang Jarang Dibahas!
Jenis TOEFL yang Diakui LPDP
Di Indonesia, istilah TOEFL sering dipakai secara umum, padahal jenisnya berbeda-beda. Untuk LPDP, yang perlu kamu pahami adalah:
- TOEFL ITP (Institutional Testing Program)
- Bentuk: Paper-based, dikerjakan di lembaga resmi.
- Seksi: Listening, Structure & Written Expression, Reading.
- Skor: 310–677.
- Fungsi di LPDP:
- Diakui untuk pendaftar dalam negeri (S2 dan S3).
- Tidak berlaku untuk sebagian besar universitas luar negeri, kecuali jika kampus secara eksplisit menerima TOEFL ITP (ini jarang).
- Harus dikeluarkan oleh lembaga resmi yang diakui ETS/IIEF dan diakui LPDP.
- TOEFL iBT (Internet-based Test)
- Bentuk: Tes berbasis komputer dengan empat seksi: Reading, Listening, Speaking, Writing.
- Skor: 0–120.
- Fungsi di LPDP:
- Diakui untuk dalam negeri dan luar negeri.
- Menjadi standar utama untuk pendaftar luar negeri, karena hampir semua universitas internasional mensyaratkan TOEFL iBT.
LPDP juga menerima IELTS dan PTE Academic sebagai alternatif. Namun, karena fokus artikel ini adalah tes TOEFL untuk LPDP, kita akan menyorot TOEFL ITP dan TOEFL iBT sebagai dua jalur utama.
Syarat Skor Tes TOEFL untuk LPDP : Detail S1, S2, dan S3 (Dalam & Luar Negeri)
Sekarang kita masuk ke bagian yang paling sering bikin deg-degan: berapa skor minimal tes TOEFL untuk LPDP yang harus kamu kejar?
Berdasarkan pedoman Beasiswa Reguler LPDP 2025 (update per 2025-12-25T00:00:00.000+07:00), berikut gambaran umumnya:
1. Magister (S2) – Dalam Negeri
Untuk kamu yang ingin kuliah S2 di universitas dalam negeri, tes TOEFL untuk LPDP bisa menggunakan TOEFL ITP maupun TOEFL iBT.
- TOEFL ITP minimal: 500
- TOEFL iBT minimal: 61
- IELTS minimal: 6.0
- PTE Academic minimal: 50
Artinya, jika kamu memilih jalur S2 dalam negeri, TOEFL ITP 500 sudah memenuhi syarat administrasi LPDP. Namun, banyak kampus besar (UI, UGM, ITB, dsb.) kadang punya standar bahasa Inggris sendiri, jadi kamu tetap perlu cek ke kampus tujuan.
2. Magister (S2) – Luar Negeri
Untuk S2 luar negeri, tes TOEFL untuk LPDP lebih ketat dan TOEFL iBT menjadi standar utama.
- TOEFL iBT minimal: 80
- IELTS minimal: 6.5
- PTE Academic minimal: 58
- TOEFL ITP: secara umum tidak diandalkan untuk luar negeri, kecuali kampus tujuan secara eksplisit menerima (ini jarang dan berisiko).
Di sini, banyak pejuang beasiswa merasa minder: “Skor 80 iBT itu tinggi banget, bisa nggak ya?”
Ingat, skor minimal LPDP ini belum tentu sama dengan skor minimal kampus. Banyak kampus top dunia meminta TOEFL iBT 90–100. Jadi, strategi aman adalah: targetkan skor di atas minimal LPDP dan di atas minimal kampus tujuan.
3. Doktor (S3) – Dalam Negeri
Untuk S3 dalam negeri, tes TOEFL untuk LPDP juga bisa menggunakan TOEFL ITP maupun TOEFL iBT.
- TOEFL ITP minimal: 530
- TOEFL iBT minimal: 70
- IELTS minimal: 6.0 (beberapa sumber menyebut 7.0, jadi selalu cek pedoman resmi dan kampus tujuan)
- PTE Academic minimal: 50
Selain itu, untuk S3 biasanya ada syarat tambahan seperti IPK minimal 3,25/4,00, sehingga skor bahasa Inggris yang kuat akan sangat membantu memperkuat profil kamu.
4. Doktor (S3) – Luar Negeri
Untuk S3 luar negeri, standar tes TOEFL untuk LPDP jelas lebih tinggi lagi.
- TOEFL iBT minimal: 94
- IELTS minimal: 7.0
- PTE Academic minimal: 65
- TOEFL ITP: umumnya tidak digunakan untuk luar negeri, kecuali ada pengecualian dari kampus (sangat jarang).
Di level ini, LPDP ingin memastikan bahwa kamu benar-benar siap untuk riset, publikasi, dan diskusi akademik intensif dalam bahasa Inggris. Jadi, jangan kaget kalau angka minimalnya terasa “galak”.
Ingat: skor minimal LPDP adalah pintu masuk beasiswa, tapi skor minimal kampus adalah pintu masuk studimu. Keduanya harus kamu lewati.
Catatan Penting: Minimal LPDP vs Minimal Kampus
Banyak pelamar hanya fokus pada skor minimal tes TOEFL untuk LPDP, padahal ada dua “gerbang” yang harus dilewati:
- Gerbang LPDP: skor minimal sesuai pedoman LPDP.
- Gerbang Universitas: skor minimal sesuai syarat kampus tujuan.
Contoh:
– LPDP minimal S2 luar negeri: TOEFL iBT 80.
– Kampus tujuan (misalnya di Eropa atau Amerika): TOEFL iBT minimal 90.
Jika skor kamu 82, kamu lolos LPDP, tapi bisa gagal daftar kampus. Karena itu, sejak awal tentukan kampus target, cek syarat bahasa Inggrisnya, lalu set target skor yang lebih tinggi dari kedua minimal tersebut.
Masa Berlaku, Lembaga Resmi, dan Aturan Teknis yang Sering Menjebak
Banyak pelamar sebenarnya sudah pernah ikut tes TOEFL, tapi tetap gugur karena masalah teknis yang tampak sepele. Di sinilah kamu perlu ekstra hati-hati.
1. Masa Berlaku Sertifikat TOEFL
LPDP mensyaratkan bahwa sertifikat tes TOEFL untuk LPDP (baik ITP maupun iBT) berlaku maksimal 2 tahun sejak tanggal tes sampai dengan tanggal pengumuman LPDP.
Artinya:
- Jika pengumuman LPDP dijadwalkan, misalnya, Agustus, maka tes TOEFL kamu tidak boleh lebih tua dari 2 tahun sebelum Agustus tahun tersebut.
- Sertifikat yang sudah lewat 2 tahun akan dianggap kedaluwarsa, meskipun skor kamu tinggi.
Karena itu, jika kamu punya sertifikat TOEFL lama dengan skor bagus, jangan langsung tenang. Hitung dulu masa berlakunya. Kalau sudah mepet, lebih aman ulang tes daripada ambil risiko gugur administrasi.
2. Lembaga Tes TOEFL yang Diakui LPDP
Untuk TOEFL ITP, LPDP hanya menerima sertifikat dari lembaga yang:
- Resmi menjadi ETS/IIEF Authorized Test Center di Indonesia.
- Mengeluarkan sertifikat dengan nomor peserta (Test Taker ID) yang bisa diverifikasi, biasanya dengan QR code atau sistem online.
Jika kamu ikut “TOEFL prediction” atau tes internal kampus yang bukan bagian dari program resmi ETS, sertifikatnya tidak akan diakui sebagai tes TOEFL untuk LPDP.
Untuk TOEFL iBT, kamu harus mendaftar melalui sistem resmi ETS dan tes di test center resmi atau via Home Edition yang diakui (selama masih sesuai kebijakan LPDP saat itu). Sertifikatnya berupa PDF resmi dari ETS yang bisa diunduh dan diunggah ke portal LPDP.
3. Proses Upload Sertifikat TOEFL di Portal LPDP
Saat pendaftaran, kamu wajib:
- Mengunggah sertifikat TOEFL (ITP/iBT) dalam format PDF yang jelas terbaca.
- Mengunggahnya di bagian dokumen administrasi kemampuan bahasa Inggris, sesuai instruksi LPDP.
- Melakukan ini meskipun kamu sudah punya LoA unconditional dari kampus tujuan.
LPDP menegaskan bahwa tes TOEFL untuk LPDP adalah syarat wajib yang tidak bisa digantikan oleh LoA. Jadi, jangan berpikir, “Aku sudah diterima kampus kok, pasti aman tanpa TOEFL.” Sistem LPDP tetap akan mencari dokumen skor bahasa Inggris kamu.
Strategi Memilih : TOEFL ITP atau TOEFL iBT untuk LPDP?
Banyak pejuang beasiswa bingung: “Aku sebaiknya ambil TOEFL ITP dulu atau langsung iBT?”
Jawabannya tergantung tujuan studi dan waktu persiapan kamu.
Jika Target Utama: S2/S3 Dalam Negeri
- Kamu boleh fokus ke TOEFL ITP, karena LPDP mengakui ITP untuk dalam negeri.
- Skor minimal:
- S2: 500
- S3: 530
- TOEFL ITP relatif:
- Lebih murah (sekitar Rp475.000–600.000).
- Durasi tes sekitar 115 menit.
- Fokus pada Listening, Structure, dan Reading (tanpa Speaking & Writing).
Namun, jika kamu punya mimpi jangka panjang untuk lanjut ke luar negeri, ada baiknya sejak awal juga mempertimbangkan TOEFL iBT atau IELTS, supaya kamu tidak perlu “ulang dari nol” nanti.
Jika Target Utama: S2/S3 Luar Negeri
- Prioritaskan TOEFL iBT atau IELTS.
- TOEFL ITP bisa kamu gunakan sebagai “pemanasan” atau latihan, tapi bukan sebagai senjata utama.
- Ingat bahwa banyak kampus top meminta skor TOEFL iBT di atas minimal LPDP (90–100).
Kamu bisa menyusun strategi bertahap:
- Ikut TOEFL ITP untuk mengukur kemampuan awal dan membiasakan diri dengan format soal.
- Setelah itu, fokus latihan intensif TOEFL iBT dengan target skor yang lebih tinggi dari minimal LPDP dan kampus.
Di titik ini, kalau kamu merasa butuh bimbingan terstruktur, kelas persiapan TOEFL online dengan live class dan tryout berkala bisa sangat membantu untuk mengukur progres dan mengatasi kelemahan spesifik kamu.
Cara Efektif Mempersiapkan Tes TOEFL untuk LPDP (Tanpa Harus Jenius)
Sekarang kita masuk ke bagian yang paling praktis: bagaimana cara belajar supaya skor tes TOEFL untuk LPDP bisa tembus, bahkan kalau kamu merasa “bahasa Inggrisku biasa saja”.
1. Kenali Pola Soal dan Rubrik Penilaian
Untuk TOEFL ITP:
- Listening: percakapan pendek, percakapan panjang, dan kuliah singkat.
- Structure & Written Expression: kalimat rumpang (pilih struktur yang benar) dan kalimat dengan kesalahan tata bahasa yang harus kamu identifikasi.
- Reading: teks bacaan akademik dengan pertanyaan detail, main idea, inference, vocabulary in context.
Untuk TOEFL iBT:
- Reading: teks panjang dengan pertanyaan detail, inference, dan ringkasan.
- Listening: percakapan kampus dan kuliah.
- Speaking: tugas independen (pendapat pribadi) dan integrated (menggabungkan reading + listening).
- Writing: satu esai integrated (ringkasan bacaan + listening) dan satu esai independent (argumen).
Dengan memahami struktur ini, kamu bisa menyusun jadwal belajar yang spesifik, bukan sekadar “belajar bahasa Inggris secara umum”.
2. Tentukan Target Skor dan Deadline
Jangan belajar tanpa angka. Misalnya:
- Target: S2 luar negeri, TOEFL iBT minimal 90 (LPDP 80, kampus 88).
- Skor awal (mock test): 65.
- Waktu persiapan: 6 bulan.
Dari sini, kamu bisa memecah target menjadi:
- Bulan 1–2: fokus Reading & Listening (naikkan vocabulary dan kecepatan baca).
- Bulan 3–4: mulai intensif Speaking & Writing, sambil tetap latihan Reading/Listening.
- Bulan 5: full tryout, analisis kesalahan, perbaiki strategi.
- Bulan 6: tes resmi.
Untuk TOEFL ITP, misalnya:
- Target: S3 dalam negeri, TOEFL ITP minimal 550 (LPDP 530, kampus 550).
- Skor awal: 480.
- Waktu persiapan: 3–4 bulan.
Kamu bisa fokus:
- Listening: latihan harian dengan audio TOEFL dan catatan singkat.
- Structure: drilling soal grammar, terutama tenses, clause, parallelism, dan agreement.
- Reading: latihan bacaan akademik, belajar skimming dan scanning.
3. Bangun Kebiasaan Harian Kecil tapi Konsisten
Kamu tidak perlu belajar 8 jam sehari. Yang penting konsisten. Misalnya:
- 20–30 menit: membaca artikel akademik atau berita internasional (The Guardian, BBC, dsb.) dan mencatat kosakata baru.
- 20–30 menit: mendengarkan podcast atau kuliah online berbahasa Inggris (YouTube, TED, dsb.).
- 20–30 menit: latihan soal TOEFL (Reading/Listening/Structure/Speaking/Writing).
Dalam 1–1,5 jam per hari, selama 3–6 bulan, progres kamu bisa sangat signifikan, asalkan kamu menganalisis kesalahan dan tidak hanya mengerjakan soal tanpa evaluasi.
4. Latihan dengan Tryout yang Mirip Tes Asli
Salah satu kesalahan umum adalah hanya belajar dari potongan soal, tanpa pernah mencoba simulasi tes penuh. Padahal, tes TOEFL untuk LPDP bukan hanya menguji kemampuan bahasa, tapi juga:
- Manajemen waktu.
- Konsentrasi panjang.
- Strategi mengerjakan soal sulit vs mudah.
Tryout online yang terstruktur (dengan skor dan pembahasan) akan membantu kamu:
- Mengukur posisi kamu saat ini.
- Mengetahui seksi mana yang paling lemah.
- Menyesuaikan strategi belajar berikutnya.
Di sinilah mengikuti bimbingan belajar online dengan live class dan tryout berkala bisa jadi game changer, karena kamu tidak belajar sendirian dan bisa mendapat feedback langsung dari tutor.

Kesalahan Umum Pejuang Beasiswa dalam Tes TOEFL untuk LPDP (dan Cara Menghindarinya)
Banyak pejuang LPDP sebenarnya mampu mencapai skor minimal, tapi gagal karena beberapa kesalahan klasik berikut:
1. Menunda Tes TOEFL Terlalu Dekat dengan Deadline LPDP
Banyak yang berpikir, “Belajar dulu sampai siap, baru daftar tes.” Akhirnya:
- Jadwal tes penuh.
- Sertifikat keluar mepet atau bahkan lewat deadline upload.
- Tidak ada waktu untuk retake jika skor pertama kurang.
Solusinya:
- Daftar tes TOEFL jauh sebelum pendaftaran LPDP dibuka, idealnya 4–6 bulan sebelumnya.
- Anggap tes pertama sebagai “tes percobaan” yang serius. Jika skor belum cukup, kamu masih punya waktu untuk retake.
2. Mengandalkan Sertifikat TOEFL Tidak Resmi
Tes “TOEFL prediction” atau tes internal kampus memang bagus untuk latihan, tetapi:
- Sertifikatnya tidak diakui sebagai tes TOEFL untuk LPDP.
- Kamu tetap harus ikut tes resmi ETS (ITP/iBT).
Solusinya:
- Gunakan prediction test hanya sebagai latihan.
- Untuk dokumen resmi LPDP, pastikan kamu tes di lembaga yang diakui ETS/IIEF.
3. Hanya Fokus pada Grammar, Lupa Latihan Listening & Reading
Banyak pelamar menghabiskan waktu berbulan-bulan menghafal rumus grammar, tapi:
- Listening masih lemah karena jarang dengar audio asli.
- Reading lambat karena tidak terbiasa membaca teks panjang.
Padahal, di TOEFL ITP dan iBT, Listening dan Reading menyumbang porsi skor yang besar.
Solusinya:
- Seimbangkan latihan: grammar penting, tapi jangan mengorbankan Listening dan Reading.
- Biasakan diri dengan audio dan teks akademik setiap hari.
4. Meremehkan Speaking & Writing (Untuk TOEFL iBT)
Untuk kamu yang mengejar luar negeri, Speaking dan Writing sering jadi “batu sandungan”. Banyak yang:
- Malu berbicara bahasa Inggris.
- Jarang menulis esai panjang.
- Tidak pernah rekam suara sendiri atau minta feedback.
Padahal, di TOEFL iBT, dua seksi ini bisa menentukan apakah skor kamu tembus target atau tidak.
Solusinya:
- Latihan Speaking dengan merekam jawaban kamu, lalu bandingkan dengan contoh jawaban band tinggi.
- Latihan Writing dengan menulis esai 250–300 kata, lalu cek struktur, koherensi, dan grammar.
- Jika memungkinkan, minta tutor atau teman yang lebih mahir untuk memberi feedback.
Di titik ini, kalau kamu merasa butuh panduan langkah demi langkah, kelas persiapan TOEFL dengan live class interaktif dan tryout berkala bisa jadi cara paling efisien untuk menghemat waktu dan energi, sekaligus memastikan skor kamu benar-benar siap untuk tes TOEFL untuk LPDP.
Banyak pejuang beasiswa yang sebenarnya punya potensi besar, tapi terjebak dalam pikiran seperti:
- “Bahasa Inggrisku pas-pasan, mana mungkin tembus TOEFL iBT 80 atau 90.”
- “Aku dari daerah, bukan dari kampus besar, pasti kalah sama yang lain.”
- “Sudah gagal sekali, berarti aku memang tidak cocok untuk beasiswa.”
Ini adalah bentuk impostor syndrome yang sangat umum. Kamu merasa tidak pantas, padahal masalahnya bukan pada kemampuan, tetapi pada strategi dan konsistensi.
TOEFL bukan soal jenius atau tidak, tapi soal seberapa teratur kamu berlatih dan seberapa cepat kamu belajar dari kesalahan.
Ingat beberapa hal ini:
- TOEFL adalah skill yang bisa dilatih, bukan bakat bawaan.
Tidak ada yang lahir dengan kemampuan menjawab soal TOEFL. Semua orang belajar dari nol. - Kegagalan tes pertama bukan vonis akhir.
Banyak penerima LPDP yang baru tembus skor setelah 2–3 kali tes. Yang membedakan mereka adalah: mereka tidak berhenti di kegagalan pertama. - Latar belakang bukan penentu tunggal.
Kamu mungkin bukan lulusan kampus besar, tapi jika kamu punya skor TOEFL yang kuat, esai yang matang, dan visi yang jelas, reviewer akan melihat kamu sebagai kandidat yang serius. - Setiap jam latihan yang kamu lakukan adalah investasi masa depan.
Skor TOEFL yang bagus tidak hanya berguna untuk LPDP, tapi juga untuk beasiswa lain, pendaftaran kampus, bahkan peluang kerja internasional.
Jadi, daripada terus bertanya, “Aku pantas nggak ya?”, ubah pertanyaannya menjadi, “Apa langkah kecil yang bisa aku lakukan hari ini untuk mendekatkan diri ke skor target?”
Mulailah dari hal sederhana: satu sesi latihan Listening, satu bacaan pendek, satu set soal Structure, atau satu paragraf Writing. Lakukan itu setiap hari. Pelan-pelan, kamu akan melihat bahwa tes TOEFL untuk LPDP bukan lagi monster menakutkan, tapi tantangan yang bisa kamu taklukkan dengan strategi yang tepat.
Pada akhirnya, tes TOEFL untuk LPDP hanyalah satu gerbang dari perjalanan panjangmu menuju mimpi kuliah S1, S2, atau S3 dengan beasiswa. Jangan biarkan rasa takut atau keraguan diri menghentikan langkahmu di depan pintu. Kamu tidak harus sempurna untuk mulai; kamu hanya perlu berani mengambil langkah pertama, lalu melanjutkannya dengan konsisten.
Jika kamu membaca sampai bagian ini, itu sudah tanda bahwa kamu cukup serius dan cukup kuat untuk berjuang. Sekarang, tugasmu adalah membuktikan pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa menaklukkan satu per satu: dari tes TOEFL, seleksi administrasi, esai, hingga wawancara. Mimpimu layak diperjuangkan, dan kamu jauh lebih mampu daripada yang kamu kira.
Sumber Referensi
- LPDP.KEMENKEU.GO.ID – Beasiswa Reguler 2025
- LPDP.KEMENKEU.GO.ID – Persyaratan Umum Beasiswa LPDP
- GOLDEN-COURSE.COM – Syarat TOEFL LPDP: Skor Minimal dan Tips Lolos
- BLOG.SCHOTERS.COM – Lembaga TOEFL yang Diakui LPDP
- ENGLISHVERSITY.SCH.ID – Syarat Skor TOEFL LPDP
- AKADEMIBAHASA.SCH.ID – Syarat Skor TOEFL LPDP 2025 Terbaru
- AMECINDO.COM – Ini Syarat Skor TOEFL LPDP dan Tips Memperoleh Skor Tinggi
- ONESTOPENGLISHEDUCATION.COM – Ini Syarat TOEFL untuk LPDP: Skor Minimal dan Tipsnya
Program Value Jadi Beasiswa 2025
“Value Tanpa Batas, Kerjakan Sampai Tuntas, Dijamin Hasil Puas”


📋 Cara Membeli dengan Mudah:
- Unduh Aplikasi JadiBeasiswa: Temukan aplikasi JadiBeasiswa di Play Store atau App Store, atau akses langsung melalui website.
- Masuk ke Akun Anda: Login ke akun JadiBeasiswa Anda melalui aplikasi atau situs web.
- Pilih Paket yang Cocok: Dalam menu “Beli”, pilih paket bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Pastikan untuk melihat detail setiap paket.
- Gunakan Kode Promo: Masukkan kode “BIMBELLPDP” untuk mendapat diskon spesial sesuai poster promo
- Gunakan Kode Afiliasi: Jika Anda memiliki kode “RES128”, masukkan untuk diskon tambahan.
- Selesaikan Pembayaran: Pilih metode pembayaran dan selesaikan transaksi dengan aman.
- Aktivasi Cepat: Paket Anda akan aktif dalam waktu singkat setelah pembayaran berhasil.
Ayoo Download Aplikasi JadiBeasiswa karena banyak sekali yang bisa kamu dapatkan agar kalian CEPAT TERLATIH dengan Soal soal LPDP 2025!!!
- Dapatkan ribuan soal lpdp 2025 dengan pembahasan yang mudah dipahami, berupa video dan teks
- Live Class Gratis (Berlajar Bareng lewat Zoom)
- Materi-materi lpdp 2025
- Ratusan Latsol lpdp 2025
- Puluhan paket Simulasi lpdp 2025
- dan masih banyak lagi yang lainnya





